Ucapan Bela Sungkawa Klasik di Tanah Air

Sudah dua bulan lebih saya tidak menulis di blog ini… sejak saya harus pulang ke Indonesia (lagi) untuk kedua kalinya di tahun yang sama. Sebenarnya saya agak nggak begitu suka untuk ngomongin tentang hal ini, tapi bulan Juli kemarin kedua orang tua saya meninggal dunia (yang detailnya nggak akan saya bahas di sini karena emang nggak kepengen).

Foto keluarga terakhir (mohon maaf rambut saya belah tengah)

Anyways, sepertinya setiap saya sedang berada dalam masa-masa sulit, saya banyak belajar tentang orang lain, dan terutama tentang diri saya sendiri. Di saat-saat seperti ini, saya akhirnya bisa tahu those who were really there for me – siapa yang sebenarnya saya bisa bilang kawan atau bukan. Saya juga belajar bagaimana saya sebenarnya ingin diperlakukan dan bagaimana harus bertindak ke depannya. Ini bisa jadi karena usia. Bisa pula karena sudah biasa.

Looking back when the thing happened, seperti biasa banyak teman dan kerabat lainnya menyampaikan bela sungkawa. Saya perhatikan beberapa (kalau tidak bisa dibilang banyak) orang yang “dekat” dengan saya justru just said something for the sake of saying something. Semacam omong kosong. Tapi nggak juga, karena sekilas apa yang diucapkan kedengaran bermakna tapi… I don’t know. Mungkin karena kata-kata yang sama sering terdengar di sekitar kita.

Oke biar ada konteksnya, berikut contoh ucapan turut berduka cita “template” yang orang suka bilang di Indonesia.

“Turut berduka cita ya… Kalau ada yang bisa dibantu, kasih tau ya!”

Honestly, “Turut berduka cita ya…” is more than enough. Bagian terakhirnya asli tidak menambah makna apapun pada kalimat sebelumnya.

If we really want to help those who are in such adversity, then maybe we can think (creatively) for ourselves how we can help them because asking them to let us know how we can help is not really helpful. Does it make sense?

Tahu kenapa waktu kita bilang kalimat di atas, penerima kata-kata tersebut jarang sekali bahkan mungkin tidak akan pernah memberitahu kita bagaimana kita bisa membantu mereka?

Jawabannya adalah waktu anggota keluarga (inti) seseorang meninggal dunia, orang tersebut pasti disibukkan oleh perasaannya sendiri, masa depan dan kenyataan yang ada di depan mata, serta mengorganisir penyambutan orang yang datang melayat, biaya, konsumsi dan sound system di rumah duka, sampai urusan peti dan kuburan dan upacara penguburan orang yang meninggal tersebut. Orang tersebut sudah cukup sibuk dan kita ikut menambahkan kesibukan mereka: harus berpikir apa yang bisa dibantu.

Kalau memang ingin membantu, mungkin bisa datang ke rumah duka. Duduk di sebelah yang berduka and just be there pun sudah lebih dari cukup. Sekedar mencuci piring atau menyapu di rumah duka atau di rumah orang yang kemalangan pun membantu kalau memang diperlukan and you want to do it.

If you are far away from that person, mungkin menanyakan kabarnya seminggu setelah kemalangan tersebut bisa membantu. Or, honestly, just saying that your thoughts are with them is enough (and of course really thinking about them not just saying it). Apapun bisa membantu, except for meminta mereka untuk memberitahu kita bagaimana caranya bisa membantu.

Versi lainnya ucapan turut berduka cita di atas tapi ada di level berbeda adalah:

“Turut berduka cita ya… Btw, uang salam-salam dari kami mending dikirim (melalui transfer lewat bank) atau nanti aja pas kita ketemu?”

Hallo?! How about not asking this kind of question?

Jujur saya salut dan sangat bersyukur ketika teman-teman dan kerabat memberikan bantuan dalam bentuk finansial waktu kemalangan. Tapi kalau ditanya begitu, hm, rasanya gimanaaaa gitu! Maybe it’s only me, tapi saya pikir hal tersebut agak kurang pantas untuk ditanyakan dengan alasan: 1) we should have asked ourselves what the best way is; dan 2) sama dengan penjelasan di atas.

Ucapan turut berduka “template” kedua menurut saya adalah:

“Yang sabar/kuat ya… Ada pelangi sehabis hujan. Pasti ada rencana Tuhan yang indah di balik semuanya ini!”

Oke oke, saya tahu dan maklum kenapa ucapan ini sering dilontarkan di Indonesia – karena masyarakat kita yang agamis, beriman, dllsb. Tapi menurut saya ini hampir kurang (buat saya tidak) bermakna karena alasan berikut ini.

Mungkin kita harus sadar bahwa kematian adalah bagian dari kehidupan. Orang tua saya dan semua orang yang saya kenal, termasuk diri saya sendiri, pada akhirnya akan meninggalkan dunia ini. Sedih? Pasti. Tapi menurut saya “Yang sabar/kuat ya….” saja sudah cukup dan harusnya berhenti di situ.

Banyak orang berkata bahwa hal yang saya alami adalah cobaan atau bad luck dan akan ada hal yang indah di balik ini semua…

Setiap saya mendengar hal ini terucap, ingin rasanya saya bertanya , “Siapa bilang?”

Menurut saya sih nggak ada rahasia tersembunyi whatsoever atau mungkin lebih tepatnya saya memilih untuk tidak berpikir demikian. Kemalangan, kesusahan, kesedihan – semuanya adalah bagian dari kehidupan. Hal-hal seperti ini adalah wajar dan harus terjadi dalam kehidupan, dan pasti akan kita alami, mau tidak mau… dan kadang hanya menunggu waktunya saja. Again, that was a catastrophe but well, namanya juga hidup!

Jujur, saya sangat mengapresiasi teman-teman dan kolega saya di Jerman yang waktu saya kabarin soal orang tua saya, hanya bilang, “Oh Hanna, I’m so sorry!” atau “Please be strong!”  dan memeluk saya.

Everyone knew that it was a disaster when one lost his/her parents… and maybe before we say anything we just have to remember: nothing that we say will change how they feel or make things better in that moment! It will just be shitty at least for a while – or for a long time… since each should take their time to heal.

Mengambil waktu sejenak untuk berpikir sebelum bicara mungkin memang adalah sebuah lagu lama. Semua orang juga tahu. Namun, ada baiknya selalu kita ingat and in that way we can be mindful in whatever that we are saying.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s