Culture Shock – Cara Memanggil Orang Asing yang Lebih Tua

Saat berkunjung ke rumah orang tua teman dari negeri asing selalu membuat saya sedikit grogi. Bukan… bukan karena takut tidak diterima karena selama ini sih selalu diterima saja tuh. Alasannya adalah karena harus menyapa mereka on first name basis tanpa embel-embel Ibu X atau Bapak Y.*

Kalau harus memanggil kakaknya yang jauh lebih tua dari saya dengan nama pertamanya, okelah. Meskipun masih sedikit aneh, masih bisa saya lakukan.

Pernah suatu waktu saya berkunjung ke rumah teman saya di kota kecil di Bavaria. Saya tinggal bersama mereka mulai tanggal 23 sampai 27 Desember 2017 untuk merayakan liburan Natal bersama. Di waktu yang sama, kami juga berkunjung ke rumah neneknya di desa seberang yang juga dipenuhi oleh tante dan om-nya teman saya beserta dengan sepupu-sepupunya.

Waktu berkenalan, mereka menyebutkan nama depannya. Saya pun tidak mungkin memanggil mereka dengan sebutan nenek, kakek, tante atau om simply karena mereka bukanlah nenek, kakek, tante, atau om saya. Bahkan ibu dan bapak teman-teman saya di sini pun tidak saya panggil dengan tante atau om dengan alasan yang sama. Mereka tetaplah orang lain, meskipun mereka adalah keluarga dari teman saya but they are not my relatives. Kalau saya panggil nenek, kakek, tante atau om, yang ada mereka malah tersinggung.

Saya, orang Indonesia ini yang kadang masih belum bisa lepas dengan kebiasaannya, tetap saja merasa asing kalau mendengar teman atau kenalan saya menyapa ibu bapak mertuanya dengan menggunakan nama depan saja. Oh ya, teman-teman saya juga memanggil ayah atau ibu tiri mereka hanya dengan menggunakan nama depan, bukan papa mama.

Sementara kalau di Indonesia, mungkin kita sudah dihardik dengan, “Berani-beraninya kamu!” (zoom in dengan efek suara sinetron Indonesia) ketika melakukan hal yang sama. Tapi jangan salah, bagi beberapa orang asing hal ini bisa saja masih tabu, loh.

Jadi bagaimana kita harus memanggil orang asing yang lebih tua dari kita?

Sebenarnya que yang paling penting untuk diperhatikan adalah bagaimana orang tersebut memperkenalkan dirinya yang bisa kita artikan sebagai bagaimana orang tersebut ingin dipanggil.

Ada yang dengan menyebutkan nama depannya saja. Ada pula yang menyebutkan belakangnya saja, atau nama depan dan nama belakangnya secara bersamaan.

Di lain kasus, ketika kita menyapa mereka, “Hello, Mrs. Schmidt. My name is Hanna. Nice meeting you.” mereka bisa saja langsung menjawab, “Just call me Monica.” atau “Monica is fine.”

Tapi bisa juga mereka menjawab, “Nice to meet you too.”

Dari situ kita bisa langsung tau bagaimana harus memanggil mereka, apakah on first name or last name basis.

Meski demikian, sebelumnya ketika berkunjung ke atau di awal tinggal di luar negeri, saya selalu melakukan berbagai cara untuk menghindari memanggil mereka atau menyebutkan sesuatu terkait dengan mereka dengan menggunakan nama depannya. Culture shock-nya agak lama sampai terobati. Biasanya dengan menggunakan kata ganti orang ketiga atau dengan menyebut mereka sebagai your mother atau your father dst. Sejauh ini sih hampir selalu berhasil ya…

Namun, kalau dipikir-pikir lebih matang, ada alasannya mengapa orang tersebut ingin dipanggil dengan nama depannya. Selain karena penggunaan Mr./Mrs. juga dianggap terlalu formal oleh banyak orang, bisa jadi karena saya sudah bukan anak-anak lagi ketika bertemu orang-orang asing – sehingga dianggap sebagai young adult. Intinya adult. Dewasa.

Ketika seseorang minta dipanggil on first name basis, memang hal tersebut tidak membuat kita serta merta berada dalam satu peer dengan mereka. Bagi saya, orang tersebut melihat orang lainnya hanya sebagai orang dewasa lainnya, sebagai orang yang “sepantaran” dengan mereka bukan di bawah atau anak muda yang tidak tahu apa-apa. Jadi tidak akan merasa bahwa dipanggil dengan nama depan sama dengan tidak hormat.

Sebaliknya, justru bisa menjadi lebih dekat nantinya dan jadi tidak terlalu sungkan kalau ingin berbicara dan bertanya, atau melakukan sesuatu bersama dengan mereka. Jauh dari tidak respect, biasanya saya malah lebih mudah dan nyaman untuk mengenal mereka lebih dalam sehingga justru menghormati mereka lebih dari sekedar bagaimana mereka dipanggil.

Bagi kebanyakan orang Indonesia tampaknya masih sangat susah untuk mengubah kebiasaan memanggil orang tua teman dengan sebutan om dan tante atau bapak dan ibu. Rasanya memang lebih sopan.

Tapi, jika mengingat peribahasa “di mana bumi dipijak, di situ langit dijunjung”, harusnya kita (termasuk saya) bisa biasa saja meskipun pada kenyataannya tidak semudah itu. Kalau memang diperbolehkan untuk meng-address seseorang yang lebih berumur dengan nama depannya, ya sok atuh menyesuaikan dan beradaptasi!

*) Tulisan ini konteksnya adalah dalam pergaulan sehari-hari, bukan di sekolah ataupun di tempat kerja.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s