Pulang ke Indonesia Setelah 2 Tahun di Perantauan: Apa Rasanya?

Di akhir Mei 2019 kemarin, saya harus pulang secara mendadak untuk mengucapkan sumpah di Pengadilan Tinggi DKI Jakarta untuk kemudian diangkat jadi advokat Indonesia. Beruntung karena bos di kantor langsung OK ketika saya minta cuti. Hurray!

Setelah penyumpahan dan pengangkatan advokat di Pengadilan Tinggi Jakarta.

Saya pun terbang ke Indonesia setelah dua tahun tinggal di Australia, Norwegia dan Jerman. Dua minggu saya habiskan antara Jakarta, Bali dan Medan bak artis ternama sedang on tour and living a jet-set life (duileh!).

Apa rasanya? Campur aduk kaya gado-gado.

Seperti banyak hal lainnya dalam hidup, tentu pengalaman pulang kali ini ada sisi positif dan negatif-nya bagi saya.

Saya mulai dengan hal-hal yang saya rasa tidak mengenakkan dan tidak pantas. Kebanyakan sih klasik!

Bukan bermaksud sombong… Akan tetapi, setelah tinggal di beberapa first world countries selama dua tahun, tak dapat dipungkiri sering kali hati dan pikiran ini membandingkan keadaan di negara-negara maju dengan yang ada di tanah air… Ini mungkin yang namanya reverse culture shockculture shock when coming back to where you are from

  • Kota-kota besar di tanah air terasa panas, macet dan sesak bahkan ketika menjelang hari raya lebaran 2019. Saya yang dulunya naik motor ke mana-mana sampai takjub sendiri – dulu kok bisa ya? Sekarang naik ojol diboncengin terus malah jantungan minta ampun. Masih banyak pengendara yang sepertinya tidak memperdulikan keselamatan ataupun pengendara lainnya. Polusi di Ibukota juga sempat membuat saya sampai sakit kepala (literally) dan muntah-muntah.
  • Banyak sampah termasuk di pantai-pantai indah di Bali ๐Ÿ˜ฆ saya akui pengelolaan sampah di negara kita memang masih kurang baik. Di mana-mana sampah hanya disatukan begitu saja yang mana banyak berakhir di tempat-tempat yang tidak seharusnya dan merusak ekosistem alam sekitar.
  • Penggunaan plastik pun masih meraja lela di mana-mana (kecuali Bali) – bahkan kadang untuk hal-hal yang sebenarnya tidak perlu pakai plastik, pedagangnya malah kekeuh harus diplastikin *smh*
  • Masih saja menemukan orang yang tidak mengerti budaya antri. Apalagi pas di toilet umum. Kesal karena ada saja yang asyik nyelonong belagak bego padahal semua orang di sana juga kebelet. Rasanya hati ini ingin menjerit, โ€˜Yaoloh tolong beri hamba kesabaran.โ€™
  • As expected, selalu ditanyain sama keluarga serta orang-orang tak dikenal di jalanan tentang kapan kawin. Kepo deh! Banyak juga sih yang nyeletuk, โ€˜Pasangannya pasti bule ya?!โ€™ Oh, give me a break!
  • Body shaming masih di mana-mana bahkan oleh tukang ojeg dan mas-mas penjaga tempat wisata ๐Ÿ˜ฆ sedih aku tuh!
  • Sepertinya masih banyak orang kita sendiri yang rasis sama orang lokal dan orang asing yang tidak berkulit putih. Herannya masih terjadi juga di tempat seperti Bali yang orang-orangnya saya pikir sudah lebih open-mindedโ€ฆ Ini yang paling sedih sih…

Oke, oke. Rasanya memang tidak adil kalau hanya membahas tentang apa yang tidak mengenakkan dari perjalanan tersebut. Karena saya ini adalah orang yang bisa bersyukur (halah), banyak hal di Indonesia yang membuat saya bahagia.

  • Sekarang sudah ada MRT di Jakarta! Saya senang sekali ketika mencobanya meski hanya melewati dua stop saja hehe. Semoga rutenya semakin banyak dan masyarakat lebih terdorong untuk menggunakan transportasi umum yang ada.
  • Banyak toko di Bali yang sekarang tidak lagi menyediakan kantong plastik. Sama halnya kaya MRT, hal ini sudah lama saya dengar tapi tetap saja bikin hati adem pas melihatnya.
  • Bisnis-bisnis (terutama start-ups) dan anak-anak muda yang aktif di dalamnya selalu membuat saya bangga. Banyaknya aplikasi dari berbagai perusahaan fintech yang dipergunakan secara luas oleh seluruh golongan juga meningkatkan konsumsi masyarakat secara pesat.
  • Semprotan di toilet!!! Ya ampun!!! Namanya juga orang Indonesia kalau tidak dibilas pakai air, rasanya gimana gituโ€ฆ ditambah lagi dengan mandi pakai gayung dengan sensasi uniknya yang terasa ketika badan ini diguyur air segarโ€ฆ ah!
  • Makan pakai tangan di rumah makan dan restoran. Yes! Ini membuatku bahagia karena selama tinggal di luar negeri, saya hanya makan pakai tangan sekali di restoran India dan bisa dihitung dengan jari di rumah.
  • Pijat di Indonesia yang harganya sangat terjangkau serta rumah makan dan tempat belanja yang buka sampai larut – meskipun saya agak sedih kalau memikirkan tingkat kesejahteraan pekerjanya…
  • Barang-barang buatan Indonesia (terutama pakaian) yang murah dan berkualitas yang kalau di Jerman dengan merk yang sama harganya bisa sepuluh kali lipat!!!

Kalau dibandingkan kesannya memang sepertinya saya lebih banyak pengalaman buruknya di Indonesia daripada yang baiknya. Tapi nggak gitu juga sih! Mungkin pelajaran yang dapat diambil adalah bangsa kita memang masih banyak PR. Masih banyak yang harus dibenahi.

Contohnya: banyak sekali orang baik di negeri kita. Kita pun terkenal karena keramahan kita di negeri asing. Akan tetapi, kadang baik menurut kita belum tentu baik menurut orang lain. Ada kalanya kita tidak perlu memberikan komentar atau menanyakan pertanyaan tertentu kepada orang. Alih-alih perhatian, kadang malah bisa bikin sakit hati! Adalah baik jika kita belajar untuk mencari topik small talk tentang hal-hal yang sifatnya tidak terlalu pribadi.

Dengan keluarga dan seorang bapak yang bukan bapak saya berbaju biru photobomb di background . Bapak saya yang pakai topi berbaju garis-garis merah putih dan berkaca mata hitam.

Poin positif yang paling penting bagi saya (dan belum saya masukkan ke daftar di atas) adalah bisa bertemu orang-orang yang disayangi (read: keluarga dan teman-teman) meskipun selalu ditanya kapan kawin hahaha. Banyak juga sih yang belum kesampaian untuk bertemu lagi karena jadwal yang tidak memungkinkan. Biarpun sudah lama tak berjumpa dan banyak yang berubah, rasanya tetap sama. Suasana akrab dan hangat saya rasakan ketika makan, minum dan mengobrol bersama-sama.

Tentunya saya tidak lupa untuk menyicipi kembali makanan khas yang selalu menggugah selera, serta buah-buahan tropis seperti markisa, mangga, semangka dan kelapa. Meski tak sempat untuk mencicipi semua makanan yang ada di list yang sudah saya siapkan sebelumnya (yep, saya punya list!) selama di Indonesia, tak mengapa! Masih ada waktu di lain hari.

Alpukat tidak pernah sebesar ini di Australia, Norwegia ataupun Jerman.

Seperti rumah, kita tentu tidak selalu satu suara dan setuju dengan seluruh isinya. Beda pendapat sudah biasa. Tapi rumah tetaplah rumah. Tempat ke mana kita pulang. Tempat di mana orang-orang yang penting di hidup kita tinggal. Meskipun kadang keadaannya tidak sempurna, rumah tetap punya tempat khusus dan penting di hati sayaโ€ฆ

Begitu juga Indonesia.

Tanah air ku tidak kulupakan
Kan terkenang selama hidupku
Biarpun saya pergi jauh
Tidak kan hilang dari kalbu
Tanahku yang kucintai
Engkau kuhargai

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s