Soal Memilih – Akhirnya Kuliah di Norwegia

Meskipun sudah mantap berkeinginan untuk melanjutkan pendidikan tinggi ke luar negeri, terkadang masih banyak hal yang masih harus dipertimbangkan untuk kemudian diputuskan. Ibarat ikut andil dalam suatu riset, tentunya ada beberapa pertanyaan (research questions) yang harus dijawab untuk akhirnya mengambil kesimpulan. Saya pun mengadakan riset kecil-kecilan atau proyek pribadi yang akhirnya mengantarkan saya pada suatu pilihan akhir.

Dalam riset saya tersebut, saya menggunakan wh questions words: what, where, why, when and how. Contoh konkret pertanyaan yang saya tanyakan pada diri saya sendiri adalah jurusan apa yang akan diambil dan di universitas mana; mengapa akhirnya memilih jurusan dan negara tersebut; kapan perginya; dan bagaimana cara membiayai uang kuliah, buku, dan kebutuhan sehari-hari di luar negeri nantinya. Saya setidaknya menghabiskan enam tahun sampai akhirnya benar-benar mantap untuk mewujudkan mimpi saya berkuliah ke luar negeri, karena memang banyak persiapan dan pengambilan keputusan yang harus saya lakukan.

Sebenarnya, pertanyaan-pertanyaan di atas merupakan persoalan yang gampang-gampang susah untuk dijawab. Banyak yang memilih mengambil kekhususan atau meneruskan jurusan perkuliahan yang dulu pernah diambil sewaktu menempuh jenjang strata satu alias S1, atau mengambil jurusan sesuai dengan pekerjaan yang pernah dilakukannya, khususnya bagi mereka yang melanjutkan studi ke jenjang strata dua atau master degree. Ada pula yang malah memilih jurusan yang baru, yang benar-benar berbeda dengan yang sebelumnya, misalnya karena minatnya berubah atau ingin mencoba karir yang baru. Beberapa orang lainnya atau orang yang ingin kuliah S1, mungkin justru memilih tempat kuliahnya terlebih dahulu, karena ada pacar di negara tujuan, berharap akan mendapatkan jodoh di negara tujuan (ada dan bebas loh!), tradisi keluarga untuk kuliah di kampus tertentu atau bisa juga simply karena memang menyukai negara tersebut. Jadi, alasannya bisa berbeda-beda untuk masing-masing orang.

Oh ya, bagi yang belum tahu, di tahun 2017 saya melanjutkan studi ke Norwegia dengan jurusan hukum maritim, tepatnya di Universitetet i Oslo atau dalam bahasa Indonesia bisa diterjemahkan menjadi Universitas Oslo. Bagi saya sendiri, jawaban dari pertanyaan-pertanyaan tersebut di atas merupakan kombinasi dari tiga faktor pertimbangan yang akan saya bagikan di bawah ini. Yuk, kita cek satu per satu!

Karl Johans gate – jalan utama di Oslo, di mana kampus fakultas hukum Universitas Oslo terletak di antara istana dan gedung parlemen Norwegia.

1. Jurusan kuliah

Menurut saya pribadi, jurusan kuliah yang akan diambil merupakan hal yang paling utama untuk dipertimbangkan dengan matang. Mengapa? Kuliah di luar negeri, meskipun kedengarannya menyenangkan, memerlukan kerja keras yang luar biasa. Banyak hal yang harus dipelajari, diperhatikan, dan dilakukan bahkan hal-hal yang tidak termasuk urusan kampus. Kita harus bisa beradaptasi dalam situasi dan kondisi yang mungkin belum pernah kita alami sebelumnya. Kalau kita tidak suka jurusan yang kita ambil, bayangkan saja betapa tidak enaknya hal tersebut! Alih-alih membawa pulang gelar baru di belakang nama kita, bisa-bisa kita jadi kehilangan motivasi belajar, stres dan akhirnya malah di-drop out! Nggak mau, kan?

Mau kuliah jurusan apa? Mungkin pertanyaan ini merupakan hal paling mudah untuk dijawab oleh banyak orang karena minat mereka sudah jelas dari jauh-jauh hari dan tidak pernah berubah. Di lain sisi, bagi banyak orang lainnya seperti saya ini, pertanyaan ini membutuhkan waktu yang sangat lama untuk bisa dijawab.

Saya sendiri memperoleh gelar sarjana di bidang hukum tahun 2012 dari salah satu perguruan tinggi negeri di ibukota negara (pusat ilmu budaya bangsa). Meski kesannya jurusan S1 dan S2 yang saya tempuh sama-sama jurusan hukum, kedua bidang yang saya ambil bisa dibilang sangatlah berbeda. Waktu kuliah S1, saya mengambil jurusan hukum dengan peminatan praktisi hukum karena memang dulu saya bercita-cita untuk menjadi seorang jaksa. Hukum maritim sendiri lebih berfokus kepada permasalahan bisnis dan hal-hal terkait lainnya di bidang perkapalan.

Di akhir tahun 2014, saya bertemu dengan seorang pelancong asal Swedia (bukanโ€ฆ dia bukan dan tidak pernah menjadi pacar saya), yang memberitahu saya bahwa dia dulunya berkuliah di Norwegia dengan jurusan fire engineering dan setelahnya bekerja di perusahaan minyak dan gas bumi di negara yang sama. Dia kemudian memberitahu saya bahwa Norwegia tidak mengenakan biaya kuliah bagi setiap mahasiswa dari negara manapun yang berkuliah di perguruan tinggi negeri, dari jenjang S1 sampai S3. Kebetulan dulu saya bekerja di kantor konsultan hukum yang banyak menangani proyek minyak dan gas bumi. Dari situlah kemudian saya berpikir, mungkin saya bisa mengecek situs web perguruan-perguruan tinggi di sana – siapa tahu ada yang sreg.

Saya kemudian menemukan jurusan maritime law di Universitetet i Oslo, Norwegia, yang pada akhirnya saya ambil. Selain itu, saya mencari tahu tentang universitas mana saja yang menawarkan jurusan perkuliahan yang sejenis. Tidak banyak ternyata universitas yang memiliki jurusan ini.

Sempat ada keraguan mengenai jurusan hukum maritim sehingga saya selalu mencari-cari jurusan kuliah lainnya yang mungkin lebih saya minati. Namun, pada akhirnya saya memilih untuk membatasi pilihan tersebut. Saya kemudian menetapkan dua jurusan yang paling saya minati, yaitu hukum maritim dan hukum energi. Sebenarnya saya lebih yakin untuk mengambil jurusan hukum maritim setelah berbincang-bincang dengan beberapa teman yang pernah mengambil jurusan serupa dan karena ketertarikan saya dengan dunia perkapalan dan laut. Namun, karena waktu itu saya bekerja di bidang sekitar hukum energi, minyak dan gas bumi, saya pikir hukum energi juga bisa berguna bagi karir saya di masa mendatang.

Saya pun akhirnya mengirimkan surat lamaran saya ke beberapa perguruan tinggi di benua biru dengan program-program yang saya minati. Saya melakukan hal tersebut memperbesar kans saya untuk diterima. Prinsip saya sejak mendaftar ke program-program S1 dulu adalah untuk tidak memusingkan mana yang harus dipilih nantinya pada saat proses pendaftaran. Daftar saja dulu! Nanti kalau sudah diterima, baru pusingkan mau pilih yang mana. Kalau diterima semua, lebih bagus lagi karena dapat menambah kepercayaan diri kita juga!

2. Biaya kuliah

Saya tidak bisa mengingat lagi sejak kapan saya memiliki gagasan untuk melanjutkan S2 dengan biaya sendiri. Salah satu alasannya saya masih ingat: karena saya ingin berdikari. Berdiri di kaki sendiri.

Namun, kata seorang teman, saya harus mendiversifikasi pilihan saya. Selain itu, siapa sih sebenarnya yang nggak mau dibayarin kalau ada yang mau ngebayarin? Jadilah waktu itu saya mendaftar beberapa beasiswa dan pengabaian atau pemotongan uang kuliah dari kampus tertentu.

Memang waktu itu saya hanya lolos pemotongan uang kuliah dari suatu universitas di Belanda. Dipikir-pikir, waktu itu saya tidak merasakan kesedihan yang sangat mendalam ketika tidak lolos seleksi beasiswa yang saya lamar. Mungkin sedihnya tidak seberapa karena memang sudah saya niatkan untuk mandiri dan membiayai semuanya sendiri.

Meskipun saya tertarik dengan semua universitas yang akhirnya saya daftar, hanya Universitetet i Oslo, Norwegia yang tidak mengenakan uang kuliah bagi mahasiswanya. Tentu saja ini merupakan nilai penting bagi saya karena bisa mengurangi beban kalau akhirnya membiayai semuanya sendiri, mengingat uang kuliah atau tuition fee di universitas-universitas di luar negeri saja sudah bisa mencapai puluhan ribu mata uang setempat. Belum lagi jika ditambahkan dengan biaya lainnya. Dan seperti yang sudah kita ketahui bersama, daya tukar Rupiah tergolong lemah jika dibandingkan dengan mata uang negara-negara maju. Bisa dibayangkan sendiri, betapa banyaknya uang yang harus kita rogoh dari kocek kita sendiri untuk berkuliah di negara maju. Akhirnya dengan alasan ketiadaan tuition fee di universitas negeri Norwegia, saya pun lebih memprioritaskan pilihan tersebut.

Saya pun membutuhkan waktu yang lama untuk menabung hingga akhirnya bisa pergi sekolah ke Norwegia seperti yang sudah saya singgung di atas. Tidak mudah memang, tapi hasilnya memberikan saya rasa bangga dan haru tersendiri yang tidak dapat diungkapkan dengan kata-kata (cailah!).

3. Alasan lainnya

Alasan lainnya ini sebenarnya merupakan alasan-alasan yang kecil namun bermakna. Ingat tentang pelancong Swedia yang saya sebutkan di atas? Dia juga bercerita tentang keindahan alam di salah satu negara Nordik tersebut (dan negara Nordik lainnya pada umumnya). Coba lakukan pencarian di mbah Google dengan kata kunci Norwegia, kemudian lihat gambar-gambar dari hasil pencarian. (Hampir) semua orang tahu, betapa indahnya Norwegia. Setelah perbincangan tersebut, saya kemudian teringat dengan salah satu mimpi saya yaitu untuk melihat aurora alias polar lights. Dan, seperti yang sudah diketahui oleh banyak orang, Norwegia adalah salah satu tempat di mana orang bisa menyaksikan fenomena alam ini.

Aurora di Tromsรธ, Norwegia, akhir Maret 2018. Sedikit kurang beruntung karena waktu ke sana, intensitas aktivitas polar lights-nya kurang begitu tinggi.

Saya belum pernah sih ke Norwegia sebelum akhirnya kuliah di sana. Di kepala saya waktu itu, saya sangat ingin mengalami yang namanya hidup di musim dingin yang panjang dan bisa melakukan aktivitas luar ruangan seperti bermain seluncur es (ice-skating), naik kereta luncur (sledging), ataupun bermain ski. Tak hanya itu, saya pun membayangkan kehidupan dan aktivitas dalam ruangan di kala hujan salju, seperti memanggang kue dan makanan hangat lainnya, minum coklat panas dan memakan marshmallows sambil memakai kaus kaki dan baju hangat yang lembut – tentunya ketika saya tidak harus berkutat dengan buku-buku tebal yang harus saya baca (padahal ini merupakan bagian terbesar dari kehidupan saya di Norwegia nantinya). Ah, betapa nyamannya!

Selain Norwegia, negara-negara di mana universitas yang saya daftar dan sukai ada di Belanda dan Inggris Raya. Keduanya bersama Jerman, Amerika dan Australia merupakan destinasi-destinasi terfavorit bagi mahasiswa Indonesia untuk melanjutkan studi. Pernah saya berkunjung selama dua minggu ke negara kincir angin untuk mengunjungi teman yang sedang berkuliah di sana akhir tahun 2013, sekalian mencari-cari inspirasi untuk melanjutkan S2. Kebetulan waktu itu adalah masa-masa natal dan tahun baru, sehingga saya dan teman banyak berkumpul dengan mahasiswa dan keluarga Indonesia untuk makan bersama. Seru banget! Selama di sana saya makan makanan khas Indonesia, bertemu dan nongkrong dengan teman-teman dari negara yang sama. Kesannya nyaman sekali. Negara asing rasa rumah sendiri.

Dari pengalaman saya sewaktu menjalani pertukaran pelajar di Turki tahun 2010-2011, saya juga sangat senang menghabiskan waktu dengan sesama pelajar dari Indonesia. Mudah, nyaman dan familiar. Otak kita sebagai manusia, tentu saja menyukai itu! Tapi apa itu yang benar-benar saya mau?

Saya kemudian menyadari bahwa salah satu tujuan saya untuk berkuliah di luar negeri adalah untuk belajar dan memperkaya diri sebanyak-banyaknya melalui pertukaran pengalaman dan cerita dengan orang-orang dengan latar belakang berbeda, mencoba makanan dari berbagai negara, dan bisa belajar bahasa lainnya. Kalau saya terus-terusan nongkrong sama orang Indonesia, tentu tujuan tersebut sulit untuk tercapai. Ini tidak berarti bahwa saya tidak menyukai orang-orang dari negara saya sendiri, loh!

Waktu akhirnya kuliah di Norwegia saya juga banyak bergaul dengan mahasiswa dan keluarga Indonesia dan kita kadang melakukan kegiatan bersama seperti memasak, nonton, ngopi dan ngobrol bareng. Bagi saya, berkumpul dengan orang-orang dari negara kita sendiri sangatlah penting ketika kita tinggal di luar negeri. Selain bisa berbagi makanan kesukaan yang kita rindukan, kita juga dapat membantu satu sama lain ketika ada kesusahan. Akan tetapi, jumlah orang Indonesia di Norwegia bisa dibilang tidak sebanyak di negara-negara tujuan kuliah favorit. Dan semua orang punya kesibukannya masing-masing, baik kerja maupun sekolah sehingga tidak selalu punya waktu untuk bersama. Jadi, saya tidak bisa mengandalkan orang Indonesia saja untuk urusan pergaulan dan curhat tentang urusan perkuliahan maupun pergaulan.

Di jurusan dan angkatan saya di semua jurusan di fakultas hukum Universitas Oslo sendiri, saya merupakan satu-satunya orang yang berasal dari Indonesia. Hal ini membuat saya mau nggak mau harus bisa menyesuaikan diri dan bergaul  dengan teman-teman dari negara yang berbeda. Saya pun akhirnya mengenalkan tradisi dan makanan Indonesia pada mereka. Pada akhirnya, beberapa dari orang-orang tersebut malah menjadi teman baik, bahkan hingga setelah masa perkuliahan berakhir.

Waktu bermain ski dengan teman-teman satu jurusan dari Jerman, Skotlandia dan Spanyol. Coba tebak saya yang mana?!

Nah, alasan-alasan tersebut di ataslah yang akhirnya meyakinkan saya untuk memilih jurusan kuliah dan universitas untuk melanjutkan studi di luar negeri.

Tiap-tiap orang pasti punya berbagai alasan pribadi dan tersendiri kenapa memilih suatu kampus untuk melanjutkan kuliah di luar negeri. Justru dengan begitu, pengalaman masing-masing orang pun menjadi unik. Menurut saya, inspirasi untuk berkuliah ke luar negeri bisa datang dari mana saja, dan tidak ada rumusnya untuk menentukan jurusan apa yang akan diambil dan di mana. Each to their own.Jadi, apapun alasannya, yaaa… sah-sah saja!

Yang sudah pernah berkuliah ke luar negeri, mungkin boleh sharing alasannya di bagian komentar di bawah. Bagi yang berkeinginan namun masih dalam proses menimbang-nimbang, semoga segera menemukan inspirasi ya!

Tip:

Bagi kalian yang ingin mencari inspirasi jurusan kuliah apa perguruan tinggi mana yang akan diambil, saya sangat menyarankan untuk banyak-banyak browsing di internet. Banyak banget informasi di sana, asalkan kita mau mencari tahu. Kalau kenal sama orang-orang yang sudah pernah kuliah di luar negeri, mungkin bisa tanya-tanya juga. Tapi menurut saya sendiri, untuk pemilihan jurusan kita harus mencari tahu sendiri minat kita sebenarnya apa.

10 thoughts on “Soal Memilih – Akhirnya Kuliah di Norwegia

  1. To be honest…I really proud of you (as Bataknese and Indonesian) and inspired by your writing….hope you will reach all your dreams and please don’t forget to come back and build your own country. I think there are a lot of Indonesian youth need your motivations and sharings…..God bless you Hanna.

    Like

    1. Hi Susan, thank you for visiting my blog and leaving a comment. Thank you for the wishes as well. It is an honor if I can help others through my stories and contribute to Indonesia in any ways. I hope you can reach all your dreams too and God bless you!

      Like

  2. Halo kak ๐Ÿ™‚
    Salam kenal. Saya Tessa, sekarang sedang au pair di Denmark. Rencananya sambil au pair sambil menabung supaya bisa kuliah di Eropa, maklum sempat dapat univ tapi belum dpt beasiswa. Jadi penasaran apa saya bisa membayar kuliah dengan hasil jerih lelah sendiri.

    Terimakasih tulisannya ๐Ÿ™‚

    Like

    1. Hallo Tessa, salam kenal juga ๐Ÿ™‚ Saya berharap kamu bisa mewujudkan mimpi-mimpimu termasuk untuk berkuliah di benua biru. Saya percaya pasti ada jalan kalau kita benar-benar mau dan berusaha. Semangat ya!

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s