Intro: Salah Satu Inspirasi Kuliah ke Luar Negeri

Siapa yang belum berumur 25 tahun namun sudah sering mendengar pertanyaan dari orang sekitar soal kapan kawin? Perempuan yang berdarah Batak tentu biasa atau setidaknya pernah mengalami ini, kan…?

Saya ingat sekali, sebelum pergi sekolah keluar negeri, saya seolah-olah dituntut untuk tidak bosan mendengarkan dan memberikan jawaban akan pertanyaan-pertanyaan soal jodoh dan berumah tangga. Terkadang, si penanya suka tidak mengingat waktu dan tempat — di saat suasana berduka pun, pertanyaannya tetap sama. Biasanya saya jawab dengan nyengir saja… Kadang dongkol juga sih hehehe… Kepingin, sih, menikah suatu saat nanti! Tapi…

Sebenarnya banyak tapinya. Kalau dibeberkan di sini satu-satu, bisa panjang dan kemungkinan besar jadi curhat 😉 Tapi, mungkin alasan terbesarnya adalah karena saya masih ingin mewujudkan mimpi-mimpi sebelum menikah. Jadi nanti kalau sudah berumah tangga, tak ada penyesalan.

Salah satu inspirasi bagi saya adalah ibu dari ayah saya – nenek, yang terjemahannya dalam bahasa Batak adalah “ompung” atau “oppung”. Beliau berasal dari keluarga bermarga Sinaga sehingga seharusnya beliau dipanggil “Oppung Boru Sinaga”. Apa daya, sulit bagi kami waktu itu untuk memanggil beliau dengan nama sepanjang dan selengkap itu. Jadi, cucu-cucunya biasa menyapa beliau dengan nama “Oppung Aga”.

Oppung Aga tinggal menetap bersama papa, mama, saya dan saudara-saudara kandung saya di hari senjanya. Sekitar 18 tahun saya hidup satu atap dengan beliau, namun saya baru mulai benar-benar mengenal beliau di zaman SMA. Orang yang tahu cerita hidup beliau, pasti tahu seberapa kuatnya karakter perempuan itu. Tak hanya itu, keinginannya pun sangat kuat. Oppung Aga lahir di tahun 1928 sebagai anak paling bungsu dari tujuh bersaudara, dan hidupnya tidak mulus sejak hari pertama karena ibunya meninggal segera setelah melahirkannya.

Masih sangat jelas di ingatan saya, ketika saya berbincang dengan beliau melalui telepon pada tahun 2011 di sela-sela persiapan untuk kompetisi peradilan semu tingkat nasional. Dari lantai empat gedung D kampus FHUI, saya memandang patung besar Profesor Djokosoetono sambil berkata, ‘Oppung sehat-sehat ya, Pung! Jadi masih bisa melihat aku jadi sarjana, kawin dan punya anak hehehe…’ Dipikir-pikir, dulu saya optimis juga padahal pacar saja tak punya (eh!).  

Hah? Kapan rupanya kau mau kawin?’ tanya beliau.

Kujawab, ‘Yaaa, mungkin umur 24 tahun lah, Pung! Kan lulus kuliah umur 22 tahun, kerja dua tahun dulu gitu…’ Lagi-lagi, percaya diri sekali kedengarannya.

Tapi, tanggapan beliau sama sekali di luar dugaan. Beliau bilang bahwa ketika beranjak remaja, kakak-kakak dan teman-temannya menikah pada usia sekitar 15 tahun. Katanya waktu itu kalau belum menikah pada usia 19 tahun berarti nggak laku. Alias perawan tua. Namun, beliau tidak peduli dengan kata orang dan menghabiskan masa mudanya melakukan hal yang diminati beliau – belajar menjahit, memasak serta menanam dan merawat bunga atau tanaman lainnya.

Oppung aja dulu baru menikah setelah berusia 24 tahun, padahal nggak pernah kuliah. Kau kan sudah mau jadi sarjana, masa mau sama kaya Oppung? Menikah itu tanggung jawab yang besar dan nanti kalau sudah berumah tangga, nggak mungkin sebebas pada waktu masih lajang. Harusnya kau sekolah ke luar negeri dan jalan-jalan melihat dunia selagi ada kesempatan.’

Sebelumnya saya memang sudah pernah kepikiran untuk melanjutkan studi di luar negeri. Akan tetapi, belum pernah semantap setelah saya berbicara dengan Oppung Aga sore itu. Beliau tidak pernah mengecap pendidikan tinggi, namun ternyata cara berpikir beliau bukan seperti orang yang tidak berpendidikan. Malahan sebaliknya!

Photo by Startup Stock Photos on Pexels.com

Di akhir bulan Januari tahun 2013, Oppung Aga pergi meninggalkan keluarga besar kami. Adalah tradisi adat Batak bagi anggota keluarga untuk berbicara terakhir kalinya kepada Almarhum/ah di ranjang tempatnya berbaring di malam sebelum mengantarkannya esok hari kembali ke bumi. Perasaan saya kacau berhari-hari. Lelah karena menangis hampir tak henti.

Waktu giliran saya tiba, saya hanya duduk bersila di lantai sangat dekat dengan tempat tidur dan memegang tangan beliau yang sudah terlipat kaku di daerah perutnya. Saya dekatkan kepala saya ke lengan beliau dan dengan berbisik saya berjanji bahwa saya akan pergi sekolah ke luar negeri. Suatu saat nanti.

7 thoughts on “Intro: Salah Satu Inspirasi Kuliah ke Luar Negeri

  1. Ah jadi mewek kalau cerita Opung Aga, si kawan tidurku yang cerewet itu.
    Yang kalau makan gak boleh sambil nonton, tapi harus di meja makan dengan sendok dan garpu, gak tau dia enaknya makan langsung pake tangan.
    Yang semuanya harus bersih, kalau meja berdebu bisa jadi bedak katanya.
    Yang ngajarin nabung dari kecil.
    Yang ngasih aku tas CnK pas pertama kerja, eh dimasukin ke peti pula itu tas pdhl masih banyak tas lain (eh kok jadi curhat ya wkwk)

    Liked by 1 person

    1. Dear Luna, terima kasih atas komentarnya. Semoga bisa untuk tidak terlalu khawatir akan pertanyaan-pertanyaan seperti itu terus ya 🙂 have a good week ahead!

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s